Rabu, 12 Agustus 2015

Tugas Analisis Teks Cerita Sejarah

Bacalah teks berikut, kemudian kerjakan soal yang mengikutinya. Kumpulkan dalam kertas terlepas.

(1) Pasoepati adalah nama sebuah kelompok suporter sepak bola yang berasal dari kota Solo. Terbentuknya Pasoepati tidak terlepas dengan kehadiran klub sepak bola Pelita Jaya yang pernah berkandang di stadion Manahan tahun 2000 lalu.

(2) Sembilan Februari 2000 lahirlah kelompok suporter klub Pelita, bernama Pasukan Soeporter Pelita Sejati atau yang disingkat dengan sebutan Pasoepati. Sinergi Pelita dan Pasoepati saat itu menjadi gairah baru yang mempersatukan publik bola Solo dan sekitarnya. Pasoepati adalah hasil akal budi seorang praktisi periklanan Solo, Mayor Haristanto.Ia mengambil prakarsa ketika tak ada wong Solo berani jemput bola guna membangun organisasi suporter ketika publik bola Solo terserang euforia karena tiba-tiba hadir tim elit Liga Indonesia di kotanya. 

(3) Dengan menunggangi gairah warga Solo yang meluap, dipadu sinergi cerdas dengan media massa lokal dan nasional, Pasoepati meroket menjadi meteor di kancah persepakbolaan nasional. Dalam perjalanan Pasoepati yang kini sudah berumur lebih dari 11 tahun ini, Pasoepati tercatat sudah memberikan dukungannya kepada empat klub sepak bola yang pernah bermarkas di kota Solo.

(4) Diawali di tahun 2000 dengan kehadiran klub Pelita Jaya yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya Pasoepati. Di tahun 2003, hengkangnya Pelita dari kota Solo kemudian digantikan oleh klub asal Jakarta Timur yang kemudian meleburkan namanya sebagai Persijatim Solo FC.

(5) Namun, nostalgia Pasoepati dengan Persijatim ternyata hanya berlangsung selama 3 tahun. Dan di tahun 2006, Pasoepati akhirnya mengikrarkan dirinya untuk mendukung klub sepak bola asli daerah, Persis Solo, seiring juga prestasinya berpromosi ke Divisi Utama.

(6) Mengawali tahun 2011, digulirkannya kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) dan juga lahirnya klub sepak bola Solo FC, membuat Pasoepati turut serta menjadi suporter bagi klub Solo FC yang berkompetisi di Liga Primer. Namun, karena pada pertengahan tahun 2011 klub Solo FC melakukan merger dengan klub Persis Solo, maka Pasoepati kini hanya menjadi suporter bagi satu-satunya klub sepak bola asal kota bengawan, Persis Solo.

(7) Jangan pernah bertanya tentang loyalitas kepada Pasoepati. Meski harus dihadapkan dengan situasi klub kebanggaannya Persis Solo ,yang saat ini terbilang minim sekali prestasi, Pasoepati tetaplah menjadi suporter setia dan mempunyai loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap klub yang didukungnya.

(8) Meski lahir dan besar di kota Solo, namun Pasoepati juga mendapatkan dukungan dari masyarakat luas di kabupaten Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Salatiga dan Wonogiri. Dukungan luas dari berbagai daerah menjadikan Pasoepati sebagai salah satu kelompok suporter terbesar di Indonesia. Keberadaan Pasoepati telah berhasil menjadi wadah pemersatu puluhan ribu warga Solo dan sekitarnya untuk bisa saling bersatu, saling bahu-membahu mendukung sebuah klub sepak bola yang bisa membuat bangga kota Solo tercinta. (adjiwae) 

sumber: http://pasoepati.net/pasoepati/sejarah-pasoepati/

1. Analisislah struktur teks cerita sejarah tersebut, cukup menyebutkan nomor paragrafnya saja untuk membuktikan bagian-bagian strukturnya. Khusus untuk bagian rangkaian peristiwa, diklasifikasikan menurut peristiwa-peristiwa yang terjadi.

2. Menurut pendapatmu pola pengembangan peristiwa sejarah tersebut dikembangkan berdasarkan urutan apa? Jelaskan!

3. Identifikasikan kaidah kebahasaan yang terdapat dalam teks tersebut sesuai dengan kolom berikut! Cari sebanyak-banyaknya/diambil secara variatif.(konjungsi temporal, frasa nomina dan frasa verba, proses nominalisasi). Perhatikan tabel berikut. Jika kurang jelas, sila kontak WA




4. Menurut pendapatmu, apa tujuan penulisan teks tersebut?

5. Tulislah beberapa kelemahan teks tersebut baik dari segi kebahasaan, struktur, maupun isinya!


Minggu, 03 Juli 2011

UAS Tingkat Tutur

Yth. Bapak/Ibu Mahasiswa PBSJ

Inilah yang ditunggu-tunggu.hehehehehe...Mohon maaf baru bisa unggah naskah ujian Prof. Edi. Ada beberapa sebab yang tidak bisa saya sampaikan. Terima kasih.
Berikut soal Ujian Akhir Semester yang harus dikerjakan. Dikumpulkan paling lambat tanggal 11 Juli 2011 bersamaan dengan tigas Prof. Sumarlam.

1. Buatlah dialog dengan menggunakan tingkat tutur yang tepat dalam bahasa Jawa antara R. Ay. Hj. Sumaryono (perias pengantin terkenal si Surakarta) dengan KRT Suryo Subroto beserta ibu yang bertempat tinggal di Baluwarti Surakarta. Isi dialog KRT Suryo Subroto beserta ibu meminta bantuan kepada R. Ay. Hj. Sumaryono untuk merias pengantin yang akan dilaksanakan 1 bulan kemudian. Kedatangan KRT Suryo Subroto beserta ibu juga bermaksud untuk meminjam pakian lengkap (Jawi jangkep) bagi pengantin berdua. Juga bermaksud meminjam pakaian Jawi jangkep untuk KRT beserta ibu dan untuk besan, termasuk patah sakembaran, dan para among tamu (sampaikan deskripsi pakaian seperti motif, keris, kain, dodot, maupun perlengkapan lainnya utamanya untuk pakaian laki-laki)!

2. Buatlah dialog antarkedua penutur yang muncul kata-kata seperti panjenengan paringi, kula aturi, panjenengan aturi, kula paringi, takwenehi, takparingi, sampeyan paringi, sampeyan aturi, sampeyan caosi, panjenengan caosi, panjenengan aturi priksa, panjenengan aturi uninga dll. Sampaikan latar sosio kultural sebelumnya.
Mohon dipahami sendiri maksudnya karena ini saya tulis berdasarkan ngendikanipun Prof. Edi apa adanya tdk saya ubah.... makasie.. sugeng makarya

Minggu, 19 Juni 2011

Daftar Judul Calon Tesis Mahasiswa PBSJ Universitas Sebelas Maret

1 Ageng Nugraheni Hubungan antara Penguasaan Kosakata dan Minat Belajar dengan Kemampuan Berbicara Bahasa Jawa Siswa Kelas X SMAN se-Kabupaten Cilacap

2 Alfiah Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Bahasa Jawa di SMP Kota Semarang

3 Anis Taflihiyah -

4 Arief Rahmawan Kemampuan Mengapresiasi Geguritan Ditinjau dari Pemahaman Kode Hermeneutik dan Pengusaan Bahasa Figuratif

5 Aris Hidayat Hubungan antara Penguasaan Kosakata dan Minat Belajar dengan Kemampuan Membaca Teks Aksara Jawa pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto

6 Christina Hartiningrum Peningkatan Kemampuan Berbicara Bahasa Jawa Krama dengan Menggunakan Metode Bermain Peran (Role Playing) pada Siswa Kelas X TKJ SMK Kosgoro 1 Sragen

7 Danar Setiawan Nilai-Nilai Struktural dan Pendidikan Budi Pekerti dalam Serat Wulangreh Karya Sri Susuhunan Pakoe Boewana IV

8 Djoko Sulaksono Nilai Estetika dan Pendidikan dalam Cerita Wayang Mintaraga Gantjaran Gubahan Dr. M. Prijohoetomo

9 Fajar Fitri H. K. M. Penggunaan Basa Rinengga dalam Lagu-lagu Jawa dan Implementasinya dalam Pembelajaran di Sekolah

10 Gunadi (A) -

11 Gunadi (B) Penerapan Metode Mind Mapping untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Aksara Jawa pada SMA N 4 Surakarta

12 Krisna Pebryawan Kemandirian Wanita dalam Roman Suparta Brata`s Omnibus (Tinjauan Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan Moral)

13 Nita Rohmayani Analisis Tekstual Rubrik Jagad Sastra pada Jagad Jawa Harian Solopos serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah

14 Sapto Sunarso Folklor Rawa Pening (Tinjauan bentuk, Fungsi, dan Nilai Edukasi)

15 Septi Indriyani Implementasi Pembelajaran Membaca Pemahamana Teks Bahasa Jawa pada Siswa Kelas X A SMA N 1 Gemolong

16 Siti Rochani Upaya Meningkatkan Membaca Teknik dengan Menerapkan CTL Aspek Pemodelan Kelas X G SMA N 4 Surakarta

17 Totok Yasmiran -

18 Trias K. P. S. Struktur dan Nilai Pendidikan dalam Cerita Rakyat Jaka Tingkir

19 Wahyu Tri Prabowo Aspek Didaktis dalam Novel Emprit Abuntut Bedhug dan Sapu Tangan Gambar Naga Karya Suparta Brata (Sebuah Tinjauan Kritik)

20 Kurniasih Fajarwati Analisis Stilistika Naskah Drama Berbahasa Jawa “Gapit” Karya Bambang Widoyo S. P. Dan Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Jawa

21 Mustofa Mahendra Upaya Pencapaian Kompetensi Dasar Bercerita tentang Pengalaman Pribadi melalui Model Penilaian Berbasis Kinerja

22 Siti Yeni S. Tradisi Pernikahan Masyarakat Samin di Desa Kemantren Kecamatan Kedungtuban Kabupaten Blora

23 Sri Kustinah Pembelajaran Menulis Huruf Jawa pada Siswa SMP Negeri Tengaran Kabupaten Semarang

Kamis, 12 Mei 2011

Transkrip "Lajang Sri Djuwita"

[26] ...kara lelara, Suwe-suwe omong dhukun kang pinter lan mandi, Banjur bab tumbal srana, Bab wong amek kasugihan, Maguru kadigdayan, Utawa golek-golek panglarisan, Dadi yen panuju gelem omong-omongan apa kang diomong ora migunani, Malah menawa dirungu bocah bisa uga ambilaheni. Sebab ngrusak pikiraning bocah.
Wong wadon menawa pinuju rerasan kena kapesthekake mung ngrembug pangan, Banjur ngrasani kang lanang, wong kang wis duwe mantu iya ngrasani mantu lan besane, utawa maneh sok ngomongake pagaweyane dhewe ing sadina-dina, Wusanane dalah wadine diomongake kabeh. Lhah anake wadon lha pa ora bakal tiru kaya mangkono?
Caraning desa yen arep ngomah-omahake anake, ora merloka-
[27] ke nari marang bocah, gelem lan orane, apa dene ora dipikir supaya ing tembe raket rukun ing nggone bebrayan. Nanging kang diemanake banget mung petungan, wiwite wong tuwane bocah lanang duwe panembung marang wong tuwane bocah wadon anjaluk amake wadon kang jenenge si anu, arep diomahake anake aran si anu. Menawa kapanujon ing ati., wong tuwane bocah wadon banjur takon wetone calon panganten lanang, sarta banjur dietungi. Sanajan bocah lanang mau ing ngatase sapabesan wis kalebu monjo kapinterane, pethel ing gawe lan warnane lumrah, yen petungane tinebu ala, wong tuwaning bocah wadon iya nampik, dadi watek , panguripan, rupa lan liya-liyane kang munpangati ing ngatase wong bebrayan ora patiya dipikir. Bodhoa, alaa, angger
[28] tibaning petungan becik, iya klakon dijodhokake. Bocah wadon kang isih cilik, lagi umur 9 utawa 10 tahun, uga ana kang wis didadekake panganten, si bocah durung ngreti apa-apa, isih dolan wae, iku saking kasusuningwong tuwa. Mumpung bisa ngragadi utawa mung prelu melik sumbangan, awit wis akeh enggone nyumbang mrana-mrana durung tau genti disumbang.
BOCAH WADON KANG WIS OMAH-OMAH
Sawise dadi penganten, kurang luwih saminggu lanang wadon isih manggon dadi siji karo wong tuwane, penganten wadon, banjur ngalih menyang omahe wong tuwane penganten lanang. Sabakdane iku ana kang terus melu maratuwa nganti sawatara lawase, wusanane banjur omah dhewe, wiwit itu kepriye kaha-
[29] nane penganten wadon, ing salawase kena diarani mardika, lan tansah momoran karo wong kang wis dikulinane, yaiku napa biyung lan sanak sedulure, saiki kumpul karo wong liya kang durung tahu disumurupi, watek-wateke utawa kekarepane, mangka wong mau kang bakal marentah marang dheweke. Mulane yeng durung lawas ngadat pikire sing wadon durung jenjem, kaya-kaya ora krasan manggon dhewe, seneng kumpul wong tuwane wae. Apa maneh mikir endi kang prelu dilakoni ana ing omah, iku banjur sangsaya bingung. Ewadene ati putek mau bisa kaslamur utawa ilang, amarga adat kalumrahane, menawa durung lawas dadi panganten iku prasasat isih diemong dening wong tuwane, kongsi sesasi rong sasi durung diiri pagaweyan, pangane direngga, sabendina mung kloyang-kloyong wae, tilik menyang wong tu-
[30] wa-tuwane utawa sanak kadange, lungane sakloron, lawas-lawas rikuh lan wedi ning wong wadon bisa ilang. Dadi wanuh becik kaya sadulur.
Wiwit semana kang lanang iya wis gelem marentah marang kang wadone, bab anjaluk laden utawa liyane. Kang wadon wiwit amanut lan anjaga wong lanang. Sakarone padha mong kinemong akanthi sabaring ati, lawas-lawas dadi kulina. Yen wis mangkono, iku kang banjur akeh pangkalan utawa alangane, andadekake ora lestari. Menawa wis bebojowan, lanang wadon wis mesthi weruh marang bebudene, ing kala mangsane kang lanang luput, sing wadon wani nutuh lan ngumpah-umpah, luwih maneh menawa wong wadon kang luput, ora saranta, kang lanang banjur nglabrag wani. Yen wis tau padu sepisan, adat ora bisa mari, naning malah andadi. Saya lawas sa-
[31] ya pingget atine, wusanane cecongkrahan, dadi pegatan, wong wadon iku dadi wajibing wong lanang, mulane yen wis duwe bojo, saking ngadi-adi lan kaderenge, kawetu panjaluke marang sing lanang, arupa sandhangan, rerengganing panganggo, utawa prabot paturon, wusana kang lanang ora bisa nuruti, dadi wong wadon pingget atine, anjalari weyaning leladen, kang lanang sumurup sudane bektining wong wadon, ora kanthi dinalar dhisik banjur srengen, saka dhadhakan mangkana wusanane banjur angambra-ambra, ilang katresnane lan rukune, dadi pepisahan, sawenehing wong laki rabi, ana kang pancen satemene seneng marang bojone, enggone gelem, nglakoni mung saka dipeksa dening wong tuwa. Kang mangkono iku wiwit kumpul wis ora dhemen, sabanjure tansah luru-luru-
[32] dhadhakan, amurih bisane pepisahan, mulane iya kelakon.
Aliya saka kang kang kacaritakake mau, isih akeh alangane wong salaki rabi, kayata; merga saka ngrembug barang remeh dadi kliru tampa, ana kang sabab sing lanang royal, ana maneh sabab sing wadon katarka laku ngiwa, lan liya-liyane. Sakwise kelakon pegatan, kang kerep dadi rasan ala mung bocah wadon, luwih-luwih menawa nganti laki ping pindho ping telu isih pegatan maneh, sangsaya dadi pocapan, ana sawenehing wong jejodhowan, salawase tansah raket rukun, iya lumrah ing ngatase leladen lan kekumpulan iku ana kaluputane, nanging mung sawetara, lan ora dadi nepsune salah siji. Ewa semono iya bisa kelakon, amarga ana kalane maratuwane ora se-
[33] neng marang mantune, anake kerep diicuk-icuk mungsuh amarang bojone, lan disumurupake utawa dijak ngrasani alaning bojone mau. Sanajan pambujuk iku wiwitane ora migunani, nanging saking tlatene busuking anake ing wekasan kalakon sedyane si tuwa. Malah saking selak kesusune ora seneng marang mantune, anake sanalika dipeksa pisah akaro bojo, dikon manggon dadi siji maneh karo wong tuwane.
Lelakon mangkono iku kabeh, sanajan tetela ala, saru, rusak uripe, apa maneh gawe pituna, jalaran duwe gawe utawa pegatan iku kanthi wragat, ewadene akeh wong kang nglakoni. Malah ana salah sijining panggonan, wonge wadon meh ora ana kang omah-omah mung sepisan, apese ping pindho. Ana maneh kang omah-omah nganti ping nem, utawa ping pitu, yen pinikir kang satemene, kang kang padha pegatan mau iya nyata saru, ananging durung mesthi luput. Manut sesorah ing ngarep, sing bocah wadon suwitane wong lanang tanpa kapinteran, ora weruh kawajibaning wadon, sabarang kang disedya ora gelem dipenggak, cuwa lan jengkel menawa ora keturutan. Enggone ngladeni kang lanang mung disambi-sambi wae, awit ora weruh mesthine. Budine kasar, ora sabaran, lan ora bisa nahan hawa murkaning ati. Kang dadi bojone iya kaya mangkono, sebab iya ora pengajaran, senajan weruh bebudeni kang wadon kaya mangkono, ora bisa mulang utawa nenuntun amrih becike, malah dheweke animbangi brangasan. Sungkan kasoran, lan kudu arep ngepak marang kang wadon, ora kena(,) ora kumpule-
[35] mesthi tansah udur arebut bener. Sebab padha dene cotho panemu, ora bisa nimbang-nimbang, wong lanang tansah pegel andeleng kaliru lan luputing bojo. Anggepe wong lanang itu kuwasa, mangka sejatine ora dhenger mungguh wajibe mangku wong wadon. Karo-karone wis rumangsa bener, mulane ora ana kang gelem ngalah.
Kabeh mau mung saka lupute sing tuwa, sebab ora mulangake anake dhek cilik, ing samangsa anake wis tuwa padha nandhang kasusahan lan karusakan, ora ngemungake anake wae, saiki wong tuwane iya melu susah. Sakbodhon-bodhonane ya, yen anake wadon padha legan, wis mesthi dadi pikiran, samangsa, ana wong pegatan, sanajan ora sangkutan apa-apa, tangga-tanggane lan sadhengah kang weruh iya perlu mertakake, lan ngurus apa sa-....

Sinergitas antara Pemerintah dan Masyarakat dalam Kerangka Keselamatan Berkendara

Setakat ini kecelakaan lalu lintas menjadi perhatian yang cukup penting bagi Pemerintah dan masyarakat. Angka kecelakaan yang cukup tinggi menyebabkan Pemerintah dan masyarakat harus waspada untuk mengantisipasi dan menekan angka kecelakaan tersebut.

Mencermati data statistik dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam Konferensi Akhir Tahun 2010 lalu sungguh membelalakkan mata. Berdasarkan data tersebut ternyata tren kecelakaan lalu lintas selama tahun 2007 sampai dengan tahun 2010 membentuk kurva terbalik. Hal ini berarti secara umum tren kecelakaan mengalami penurunan. Tahun 2007 hingga tahun 2009 mengalami kenaikan namun tahun 2009 hingga tahun 2010 mengalami penurunan.

Namun demikian hal yang patut dicermati adalah besarnya angka kecelakaan dalam skala Nasional masih cukup tinggi walaupun sudah mengalami penurunan, yakni sekitar 47.261 kecelakaan. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka kecelakaan moda transportasi lainnya. Data KNKT memaparkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan kecelakaan yang terbesar dibandingkan moda transportasi lain. Kasus kecelakaan angkutan laut, hanya sekitar 525 kejadian dalam empat tahun terakhir, sedangkan lalu lintas jalan mencapai sekitar 218.257 kejadian sebagaimana yang dikutip Edo Rusyanto (2010) dalam http://edorusyanto.wordpress.com/2010/12/31/tren-kecelakaan-menurun/. Hal ini akan semakin tampak jika dibandingkan dengan kecelakaan transportasi yang kereta api dan angkutan udara. Angka kecelakaan kereta api terjadi sekitar 375 kasus sedangkan angkutan udara hanya 212 kasus dalam empat tahun terakhir. Hal ini sangat logis karena sebagian besar aktivitas manusia berada di daratan dan moda transportasi yang paling banyak digunakan adalah lalu lintas jalan. Jumlah sepeda motor pun setiap harinya diproduksi dalam angka yang cukup besar pula.

Dalam skala yang lebih besar kecelakaan lalu lintas jalan tak kurang dari 1,2 juta jiwa melayang di jalan raya berdasarkan data Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 2009. PBB juga menyebut, sekitar 87,2% kecelakaan itu terjadi di negara berkembang. Data yang tak jauh berbeda juga disodorkan Lembaga Keselamatan jalan raya Amerika Serikat (NHTSA) sebagaimana yang dilansir oleh Tempo Interaktif, Jakarta. Angka lebih ekstrem dipaparkan oleh Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Joewono Soemarjito yang menyatakan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas secara nasional tahun 2008-2010 mencapai 8,5 orang per 100.000 jiwa meninggal setiap hari. Sungguh angka yang sangat fantastis dan patut menjadi ancaman bagi para pengguna jalan.
Kita tidak cukup sebatas mengagumi dan berkontemplasi dalam memahami kenyataan ini. Saatnya bagi kita bertindak untuk keselamatan jiwa kita. Kita patut bertanya sebenarnya apakah penyebab besarnya angka kecelakaan ini. Hal ini menjadi sangat penting karena untuk mengantisipasi suatu persoalan kita harus bersandarkan pada aspek penyebabnya. Hukum kausalitas patut dijadikan acuan dalam mengatasainya. Suatu hal yang mustahil mengobati suatu penyakit tanpa mendiagnosis penyebab dan jenis penyakitnya.

Jika menilik data yang disampaikan KNKT, faktor penyebab kecelakaan terbesar tahun 2007-2010 berada pada sumber daya manusia, yaitu mencapai 69% dan faktor kedua adalah faktor sarana sekitar 19% sisanya adalah prasarana dan lingkungan. Selanggam dengan hal tersebut, NHTSA sebagaimana yang dilansir dalam nhtsa.gov setidaknya ada enam penyebab yang paling sering memicu terjadinya kecelakan lalu lintas. Empat diantaranya berkait dengan manusia. Sekitar 55% kecelakaan terjadi akibat pengemudi kehilangan konsentrasi. Hal ini kemungkinan disebabkan pengendara menggunakan telepon genggam atau beralih pandangan pada sesuatu yang menarik perhatian. Faktor kedua adalah pengendara mengalami kelelahan dan mengantuk yang mencapai 45% menjadi pemicu kecelakaan. Sekitar 30% kecelakaan terjadi akibat kecepatan yang melampaui batas yang diizinkan. Pengendara pada umunya tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas yang ada.

Aspek nonhuman juga dapat menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. Faktor tersebut adalah cuaca. Cuaca hujan deras, angin ribut, berkabut, hingga udara kering yang menyebabkan jalanan berdebu juga tercatat sebagai penyebab kecelakaan. Persentasenya mencapai 13%. Faktor berikutnya adalah komponen kendaraan yang tidak beres acapkali juga menyebabkan kecelakaan. Faktor ini dapat mencapai 10% hingga 14%.
Berdasarkan kedua data tersebut, penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas jalan setidaknya tercakup dalam tiga bagian besar. Penyebab pertama dan utama adalah sumber daya manusia itu sendiri. Faktor kedua adalah sarana dan prasarana. Faktor terakhir adalah lingkungan.

Faktor manusia menjadi bagian terpenting karena justru karena kelalaian manusialah yang menyebabkan kecelakaan itu sendiri. Selaras dengan hal itu, manusia sering kehilangan fokus saat berkendara, kehilangan kesadaran karena pengaruh minuman keras atau narkoba, tidak memperhatikan rambu-rambu lalu lintas, mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi dan lain-lain secara sadar atau tidak menjadi pemicu terbesar kecelakaan lalu lintas. Faktor sarana dan prasarana meliputi kondisi jalan yang tidak baik, sistem regulasi yang tidak mewadahi atau belum ditegakkan dengan sebagaimana mestinya, dan kurang berfungsinya marka jalan, lampu pengatur lalu lintas, dan lain-lain. Faktor katiga yang tidak kalah pentingnya adalah faktor lingkungan yang meliputi cuaca. Cuaca yang buruk dan tidak mendukung dapat pula menyebabkan kecelakaan.

Sungguh pun demikian, ketiga faktor tersebut tidak bersifat nonmutually exclusive (saling mengecualikan). Artinya adalah suatu kecelakaan tidak bisa dikatakan hanya disebabkan salah satu faktor tersebut. Suatu kecelakaan dapat terjadi karena dua atau tiga faktor sekaligus. Selain itu, seseorang yang sudah berhati-hati sekalipun tidak serta merta selamat dari kecelakaan jika kondisi jalan tidak mendukung. Demikian pula sebaliknya kondisi jalan yang baik tanpa didukung dengan manusia yang santun dalam berkendara juga tentu tidak dapat luput dari kecelakaan. Apalagi jika ketiga faktor tidak mendukung tentu angka kecelakaan akan semakin meningkat.
Kemudian apakah Pemerintah sudah mengantisipasi hal tersebut? Sebuah kalimat yang cukup retoris. Pada hakikatnya sudah lahir satu regulasi yang telah diberlakukan sejak tahun 2010 yakni Undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. Namun demikian, sebuah gejala paradoksal justru muncul seiring dengan diberlakukannya undang-undang tersebut. Seolah banyak pengendara yang tidak tahu (kurang tahu) dan mencuaikan undang-undang ini. Banyak pelanggaran yang terjadi terhadap undang-undang ini. Beberapa pasal perlu dikritisi dan ditilik kembali keefektivannya.

Beberapa pasal yang patut ditelaah kembali diantaranya, Pasal 107 ayat 2 yang mengatur tentang penyalaan lampu utama pada siang hari belum tampak efektivitasnya. Di lain pihak banyak pengguna yang tidak mematuhi peraturan ini. Padahal jelas sekali hukumannya. Demikian pasal 106 ayat 8 yang mewajibkan pengendara menggunakan helm Standar Nasional Indonesia yang belum banyak ditaati. Selain kedua pasal tersebut, sebenarnya masih banyak pasal yang belum dapat dilaksanakan dengan baik.
Pada hakikatnya, undang-undang tersebut sudah cukup ideal untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas khususnya pada bagian keempat tentang tata cara berlalu lintas yang terdiri dari sembilan paragraf mulai pasal 105 sampai dengan 126. Namun demikian sebagaimana yang telah dijelaskan di atas belum cukup efektif untuk mengatasi permasalahan yang ada.

Bertolak pada ketiga faktor penyebab yang telah dipaparkan di atas, tentu ada tiga jalan pemecahan untuk menekan angka kecelakaan jalan raya. Pertama, pemecahan masalah berada dalam diri manusia karena kita tidak dapat memungkiri bahwa penyebab utama kecelakaan adalah manusia itu sendiri. Sadarilah akan arti pentingnya keselamatan diri sendiri dan orang lain. Jangan sekali-kali kita berpikir bahwa keselamatan di jalan hanyalah untuk diri kita. Tidak jarang kita melihat orang yang sudah berkendara dengan hati-hati menjadi korban pengendara lain yang tidak hati-hati. Hal ini berarti keselamatan orang lain pada hakikatnya adalah keselamatan diri kita sendiri. Marilah kita selalu menjaga diri kita selama berkendara di jalan. Caranya adalah kita berangkat dari individu masing-masing untuk menumbuhkan kesadaran berlalu lintas. Andai saja setiap individu berpikir demikian ibarat lilin yang menerangi kegelapan, semakin banyak lilin tentu semakin teranglah ruangan gelan itu. Dengan demikian, semakin berkuranglah angka kecelakaan di jalan.
Kedua, secara bersama-sama antara Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi membenahi sarana dan prasarana yang ada. Kondisi jalan diperbaiki sedemikian rupa, mengontrol kondisi fisik kendaraan sebelum melakukan perjalanan, menegakkan dan membenahi sistem regulasi yang telah ada, menaati segala peraturan dan lain-lain.
Ketiga, memperhatikan cuaca saat berkendara. Kurangi kecepatan saat jarak pandangan mata berkurang akibat cuaca yang memburuk. Sadarilah bahwa cuaca sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas sekalipun kita sudah cukup berhati-hati dan bahkan kondisi kendaraan atau jalan superbaik. Jika perlu hindarilah bepergian pada saat kondisi cuaca tidak mendukung.

Pada akhirnya, sebenarnya kecelakaan jalan hanya dapat ditekan dengan satu frasa yaitu kebersamaan dalam menjaga keselamatan diri dan orang lain. Betapapun hebatnya perundang-undangan dan sarana yang memadai jika tidak diikuti dengan kesepakatan bersama untuk menjaga keselamatan jiwa tentu selamat di jalan mustahil diraih. Keselamatan di jalan hanyalah ide kosong belaka. Saatnya kita bertindak secara integral dan holistik dalam memerangi kecelakaan di jalan. Untuk itulah sadari, yakini, lakukan dan tebarkan konsep kesadaran berlalu lintas demi terwujudnya kelamatan bersama di jalan.

Selasa, 19 April 2011

Ngengrengan Kegiyatan Seminar Tesis

Ingkang Kinurmatan Bapak/Ibu Mahasiswa PBSJ Pascasarjana UNS

Menika kaaturaken bab-bab ingkang wigatos ingkang magepokan kaliyan mata kuliah Seminar Tesis. Prelu kulo aturaken bilih seminar Tesis kedah kita rembag sesarengan kanthi sae, ing pangajab sedaya saged manunggal ing damel saha lancar samudayanipun. Bab-bab ing ngandhap menika prelu dipunrembag ing pepanggihan Senin ngajeng supados sedaya saged sami sarujuk.

1. Mahasiswa ingkang kadawuhan ngaturaken seminar proposalipun dipunatur kanthi urutan ingkang sampun kulo bage. Dene ingkang dereng siap saged lintu dhumateng sedherek sanesipun ingkang kersa lelintonan. Babagan menika asipat fleksibel kemawon, ingkang baken kedah lapur menawi lintu utawi dereng saged.

2. Supados saged gampil anggenipun caos panyaruwe saha pamanggih dhateng proposal mahasiswa ing seminar, proposal kedah dipun kempalaken seminggu sakderengipun majeng seminar. Ancasipun saged dipun copy dening kanca panitia kecil (panitia menika ingkang ngurus sedaya kebetahan seminar) saha saged kabage dhateng kanca sanesipun. Kanthi menika kaajab proposal saged dipun waos para kanca saengga saged dados proposal ingkang sae saksampunipun dipunparingi panyaruwe.

3. Panitia kecil ingkang kasebat ing nomer 2, kadhapuk kanthi pirembagan Senin ngajeng.

4. Arta gentos fotokopi dipun sanggi piyambak-piyambak. Mahasiswa kedah maringi arta paling sekedhik Rp20.000,00 dhateng panitia kangge gentos fotokopi, menawi tirah badhe kawangsulaken dene menawi kirang kedah nambah sanes wekdal.

5. Supados gampil, sayuk saha kompak, pasugatan seminar dipunsanggi sesarengan. Panitia kecil ingkang badhe ngatur babagan menika. Dene pilihan menu dhaharan kaaturaken ngengrengan makaten:

a. Menawi sedaya (kagem dhosen menapa kangge mahasiswa) awujud kudapan, saben mahasiswa urun Rp. 65.000,00
b. Menawi mahasiswa tedhan, dhosen dhaharan saha kudapan, saben mahasiswa urun Rp120.000,00
c. Menawi mahasiswa namung kudapan, dhosen dhaharan saha kudapan, saben mahasiswa urun Rp87.000,00
d. Menawi sedaya (dhosen kaliyan mahasiswa) dhaharan ageng, saben mahasiswa urun Rp87.000,00
e. Menawi sedaya (dhosen kaliyan mahasiswa) dhaharan saha kudapan, saben mahasiswa urun Rp152.000,00

Sumangga samangkih karembag, Panjenengan kantun milih menu ingkang pundi. Sedaya menika kaetang kanthi kasar (dhahar ageng dipun aosi Rp8.000,00 menawi kudapan Rp6.000,00). Kaetang kanthi gunggung sedaya peserta seminar 31 tiyang (mahasiswa+dhosen) lajeng 8 dinten seminaripun (saben pepanggihan 3 mahasiswa). Petangan menika fleksibel saged karembag malih.

Makaten ngengrengan kegiyatan seminar tesis ingkang karembag sawetawis kanca mahasiswa. Kulo nembe nyuwun pamanggih sawetawis sedherek, saengga sedaya kala wau kantun nengga palilah sedherek sedaya. Kulo suwun Senin ngajeng saged paring pamanggih saha panyaruwe. Dene daftar urutan kulo acak ing ngandhap menika. Nuwun.

I. Arief Rahmawan, Totok Yasmiran, Djoko Sulaksono
II. Alfiah, Fajar Fitri, Sapto Sunarso
III. Aris H., Gunadi (B), Nita Rohmayani
IV. Siti Rochani, Trias Kamanindhita, Gunadi (A)
V. Danar Setiawan, Christina H., Anis Taflihiyah
VI. Krisna P., Septi Indriyani, Ageng Nugraheni
VII. Wahyu Tri W., Mustofa Mahendra, Kurniasih Fajarwati,
VIII. Siti Yeni, Sri Kustinah